Melihat kejadian di Indonesia saat ini, mengingatkan saya pada sebuah catatan lama saya di sekitar tahun 2007 yang menuliskan tentang ramalan Jayabaya.
Jayabaya adalah seorang raja di Jawa sekitar 900 tahun yang menuliskan sebuah karya sastra yang berisi prediksi tentang masa depan Jawadwipa. Bagi saya, beliau adalah futurologist & profiler pertama yang dimiliki bangsa Indonesia, yang dengan kebijaksanaannya mampu mengamati pola perilaku manusia Indonesia dan membuat sebuah prediksi profil perilaku sampai jauh melampaui jamannya. Alvin Toffler-pun tidak ada apa-apanya dibanding beliau :)
Sekitar sembilan ratus tahun yang lalu, Jayabaya menulis, bahwa di masa depan, di Jawadwipa akan terjadi:
Bumi semakin lama semakin mengerut. Sejengkal tanah dikenai pajak.
Kuda suka makan sambal. Orang perempuan berpakaian lelaki.
Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik.
Banyak janji tidak ditepati. Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Orang-orang saling lempar kesalahan.
Tak peduli akan hukum Allah.
Yang jahat dijunjung-junjung. Yang suci (justru) dibenci.
Banyak orang hanya mementingkan uang.
Lupa jati kemanusiaan. Lupa hikmah kebaikan.
Lupa sanak lupa saudara. Banyak ayah lupa anak.
Banyak anak berani melawan ibu. Menantang ayah.
Saudara dan saudara saling khianat. Keluarga saling curiga.
Kawan menjadi lawan.
Banyak orang lupa asal-usul.
Hukuman Raja tidak adil. Banyak pembesar jahat dan ganjil
Banyak ulah-tabiat ganjil. Orang yang baik justru tersisih.
Banyak orang kerja halal justru malu. Lebih mengutamakan menipu.
Malas menunaikan kerja. Inginnya hidup mewah.
Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
Si benar termangu-mangu. Si salah gembira ria.
Si baik ditolak ditampik. Si jahat naik pangkat.
Yang mulia dilecehkan. Yang jahat dipuji-puji.
Perempuan hilang malu. Laki-laki hilang perwira
Banyak laki-laki tak mau beristri. Banyak perempuan ingkar pada suami.
Banyak ibu menjual anak. Banyak perempuan menjual diri.
Banyak orang tukar pasangan.
Perempuan menunggang kuda. Laki-laki naik tandu.
Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen). Lima perawan lima picis.
Duda pincang laku sembilan uang.
Banyak orang berdagang ilmu.
Banyak orang mengaku diri. Di luar putih di dalam jingga.
Mengaku suci, tapi palsu belaka.
Banyak tipu banyak muslihat.
Banyak hujan salah musim.
Banyak perawan tua. Banyak janda melahirkan bayi.
Banyak anak lahir mencari bapaknya. Agama banyak ditentang.
Perikemanusiaan semakin hilang.
Rumah suci dijauhi.
[Saduran bebas Jangka Jayabaya]
Bukankah sekarang ini hal-hal di atas terjadi di Indonesia ?
semoga saja kita bukan termasuk orang yang tersesat...
amiien....
Referensi:
Ramalan Jayabaya. (2009, November 14). Wikipedia, . Diakses pada 19:41, Desember 1, 2009 dari http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ramalan_Jayabaya&oldid=2672240.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar