Tulisan Mas Ali tentang anehnya puasa di Indonesia memberi saya inspirasi untuk menulis juga tentang puasa. Tentunya dalam konteks yang berbeda.
Saya dan Mas Ali pernah bersama-sama bersekolah (walaupun berbeda angkatan) di sekolah yang mayoritas muridnya adalah non-muslim. Jadi, meskipun kami hidup di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, namun dalam lingkungan mikro di sekitar kami kondisinya berbeda 180 derajat. Kami menjalankan ibadah puasa tanpa perlu meminta teman-teman lain untuk tidak makan dan minum di depan kami. Selama kami bersekolah, saya tidak pernah menganggap aktivitas makan-minum itu perbuatan tidak menghormati. Justru saya melihatnya sebagai sebuah ujian bagi kami untuk tetap teguh pada niat yang sudah kami bawa dari rumah untuk berpuasa. Namun tanpa diminta pun beberapa teman non Muslim ikut menemani berpuasa, alasannya karena dengan puasa mereka jadi tidak berpikir untuk jajan & bisa lebih berkonsentrasi belajar. Bertahun-tahun kemudian saya baru menyadari bahwa alasan yang mereka sampaikan itu ada benarnya.
Tulisan ini bukan bermaksud membahas masalah toleransi atau semacamnya. Yang mau saya sampaikan adalah bahwa aktivitas puasa merupakan bukti paling gampang untuk konsep “Mind over Matter”. Kenapa bisa begitu?
Sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov pada anjing membuktikan bahwa tubuh merupakan sebuah sistem super canggih yang dapat mengembangkan program secara otomatis berdasarkan kebiasaan. Eksperimen Pavlov menunjukkan bahwa ketika anjing-anjing dibiasakan untuk memperoleh makanan setelah terdengar bunyi bel, maka setelah melalui masa pembiasaan, anjing-anjing tersebut akan mengeluarkan air liur setiap mendengar bunyi bel walaupun tidak ada makanan yang diberikan.
Sistem tubuh manusia bekerja PERSIS SAMA dengan perilaku sistem tubuh anjing dalam eksperimen Pavlov. Seorang manusia yang terbiasa makan 3 x (tiga kali) sehari, akan merasa lapar pada jam-jam tertentu, BUKAN karena tubuhnya memang memerlukan asupan makanan tambahan, tetapi lebih karena KEBIASAAN yang telah dibangun & dipercayainya sebagai suatu kebenaran logis. Berdasarkan pada kebiasaan pola makannya, kecanggihan sistem tubuh manusia memprogram syaraf parasimpatik dalam lambung untuk memproduksi asam lambung sebagai persiapan untuk mempermudah proses pencernaan makanan yang akan segera datang. Pertambahan produksi asam lambung inilah yang didefinisikan manusia sebagai ‘lapar’. Padahal sebetulnya tidak ada ketentuan bahwa manusia harus makan 3x sehari ... :-)
Berdasarkan pada pengalaman, saya merasakan bahwa ketika berpuasa dengan niat yang benar (artinya bukan ‘terpaksa puasa’ karena tidak ketemu makanan) tidak timbul rasa lapar pada jam-jam makan yang terlewat. Artinya, asam lambung tidak diproduksi secara otomatis pada jam makan. Itu artinya aktivitas puasa dapat menjadi sarana bagi manusia untuk memperoleh kembali perannya sebagai MASTER atas tubuhnya sendiri. Niat berpuasa yang dicanangkan oleh pikiran diproses di otak dan diteruskan ke syaraf parasimpatik sehingga mencegah kinerja otomatis produksi asam lambung.
Niat, yang dicanangkan oleh pikiran, adalah sesuatu yang tak berwujud. Bahkan di dalam otak pun pikiran ini masih berupa kilasan-kilasan energi biolistrik yang bergerak di antara neuron-neuron otak. Tubuh, adalah suatu sistem di mana proses kimiawi, fisika & biologi bekerja secara mekanis. Point pentingnya: Pikiran (mind) mengendalikan Tubuh (body) ==> Energi (energy) mengendalikan Materi (matter) ==> Mind over Matter
Jadi jika Anda masih merasa lapar saat berpuasa, perbaikilah Niat Anda. Jika Anda sudah terbisa berpuasa tanpa masalah, maka langkah selanjutnya adalah mendalami konsep Mind over matter ini, karena ada banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan. Penyakit bisa dihilangkan oleh pikiran, visualisasi dapat membawa Anda menuju kenyataan, dan sebagainya.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar