Jumat, 04 Desember 2009

Puasa – Mind over Matter

Tulisan Mas Ali tentang anehnya puasa di Indonesia memberi saya inspirasi untuk menulis juga tentang puasa. Tentunya dalam konteks yang berbeda.
Saya dan Mas Ali pernah bersama-sama bersekolah (walaupun berbeda angkatan) di sekolah yang mayoritas muridnya adalah non-muslim. Jadi, meskipun kami hidup di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, namun dalam lingkungan mikro di sekitar kami kondisinya berbeda 180 derajat. Kami menjalankan ibadah puasa tanpa perlu meminta teman-teman lain untuk tidak makan dan minum di depan kami. Selama kami bersekolah, saya tidak pernah menganggap aktivitas makan-minum itu perbuatan tidak menghormati. Justru saya melihatnya sebagai sebuah ujian bagi kami untuk tetap teguh pada niat yang sudah kami bawa dari rumah untuk berpuasa. Namun tanpa diminta pun beberapa teman non Muslim ikut menemani berpuasa, alasannya karena dengan puasa mereka jadi tidak berpikir untuk jajan & bisa lebih berkonsentrasi belajar. Bertahun-tahun kemudian saya baru menyadari bahwa alasan yang mereka sampaikan itu ada benarnya.

Tulisan ini bukan bermaksud membahas masalah toleransi atau semacamnya. Yang mau saya sampaikan adalah bahwa aktivitas puasa merupakan bukti paling gampang untuk konsep “Mind over Matter”. Kenapa bisa begitu?
Sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov pada anjing membuktikan bahwa tubuh merupakan sebuah sistem super canggih yang dapat mengembangkan program secara otomatis berdasarkan kebiasaan. Eksperimen Pavlov menunjukkan bahwa ketika anjing-anjing dibiasakan untuk memperoleh makanan setelah terdengar bunyi bel, maka setelah melalui masa pembiasaan, anjing-anjing tersebut akan mengeluarkan air liur setiap mendengar bunyi bel walaupun tidak ada makanan yang diberikan.

Sistem tubuh manusia bekerja PERSIS SAMA dengan perilaku sistem tubuh anjing dalam eksperimen Pavlov. Seorang manusia yang terbiasa makan 3 x (tiga kali) sehari, akan merasa lapar pada jam-jam tertentu, BUKAN karena tubuhnya memang memerlukan asupan makanan tambahan, tetapi lebih karena KEBIASAAN yang telah dibangun & dipercayainya sebagai suatu kebenaran logis. Berdasarkan pada kebiasaan pola makannya, kecanggihan sistem tubuh manusia memprogram syaraf parasimpatik dalam lambung untuk memproduksi asam lambung sebagai persiapan untuk mempermudah proses pencernaan makanan yang akan segera datang. Pertambahan produksi asam lambung inilah yang didefinisikan manusia sebagai ‘lapar’. Padahal sebetulnya tidak ada ketentuan bahwa manusia harus makan 3x sehari ... :-)

Berdasarkan pada pengalaman, saya merasakan bahwa ketika berpuasa dengan niat yang benar (artinya bukan ‘terpaksa puasa’ karena tidak ketemu makanan) tidak timbul rasa lapar pada jam-jam makan yang terlewat. Artinya, asam lambung tidak diproduksi secara otomatis pada jam makan. Itu artinya aktivitas puasa dapat menjadi sarana bagi manusia untuk memperoleh kembali perannya sebagai MASTER atas tubuhnya sendiri. Niat berpuasa yang dicanangkan oleh pikiran diproses di otak dan diteruskan ke syaraf parasimpatik sehingga mencegah kinerja otomatis produksi asam lambung.
Niat, yang dicanangkan oleh pikiran, adalah sesuatu yang tak berwujud. Bahkan di dalam otak pun pikiran ini masih berupa kilasan-kilasan energi biolistrik yang bergerak di antara neuron-neuron otak. Tubuh, adalah suatu sistem di mana proses kimiawi, fisika & biologi bekerja secara mekanis. Point pentingnya: Pikiran (mind) mengendalikan Tubuh (body) ==> Energi (energy) mengendalikan Materi (matter) ==> Mind over Matter

Jadi jika Anda masih merasa lapar saat berpuasa, perbaikilah Niat Anda. Jika Anda sudah terbisa berpuasa tanpa masalah, maka langkah selanjutnya adalah mendalami konsep Mind over matter ini, karena ada banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan. Penyakit bisa dihilangkan oleh pikiran, visualisasi dapat membawa Anda menuju kenyataan, dan sebagainya.
Semoga bermanfaat.

Rabu, 02 Desember 2009

Ramalan Jayabaya - Relevansi dengan kondisi Indonesia saat ini

Melihat kejadian di Indonesia saat ini, mengingatkan saya pada sebuah catatan lama saya di sekitar tahun 2007 yang menuliskan tentang ramalan Jayabaya.
Jayabaya adalah seorang raja di Jawa sekitar 900 tahun yang menuliskan sebuah karya sastra yang berisi prediksi tentang masa depan Jawadwipa. Bagi saya, beliau adalah futurologist & profiler pertama yang dimiliki bangsa Indonesia, yang dengan kebijaksanaannya mampu mengamati pola perilaku manusia Indonesia dan membuat sebuah prediksi profil perilaku sampai jauh melampaui jamannya. Alvin Toffler-pun tidak ada apa-apanya dibanding beliau  :)


Sekitar sembilan ratus tahun yang lalu, Jayabaya menulis, bahwa di masa depan, di Jawadwipa akan terjadi:

Bumi semakin lama semakin mengerut. Sejengkal tanah dikenai pajak.
Kuda suka makan sambal. Orang perempuan berpakaian lelaki.
Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik.
Banyak janji tidak ditepati. Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Orang-orang saling lempar kesalahan.
Tak peduli akan hukum Allah.
Yang jahat dijunjung-junjung. Yang suci (justru) dibenci.
Banyak orang hanya mementingkan uang.
Lupa jati kemanusiaan. Lupa hikmah kebaikan.
Lupa sanak lupa saudara. Banyak ayah lupa anak.
Banyak anak berani melawan ibu. Menantang ayah.
Saudara dan saudara saling khianat. Keluarga saling curiga.
Kawan menjadi lawan.

Banyak orang lupa asal-usul.
Hukuman Raja tidak adil. Banyak pembesar jahat dan ganjil
Banyak ulah-tabiat ganjil. Orang yang baik justru tersisih.
Banyak orang kerja halal justru malu. Lebih mengutamakan menipu.
Malas menunaikan kerja. Inginnya hidup mewah.
Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
Si benar termangu-mangu. Si salah gembira ria.
Si baik ditolak ditampik. Si jahat naik pangkat.
Yang mulia dilecehkan. Yang jahat dipuji-puji.
Perempuan hilang malu. Laki-laki hilang perwira
Banyak laki-laki tak mau beristri. Banyak perempuan ingkar pada suami.
Banyak ibu menjual anak. Banyak perempuan menjual diri.
Banyak orang tukar pasangan.

Perempuan menunggang kuda. Laki-laki naik tandu.
Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen). Lima perawan lima picis.
Duda pincang laku sembilan uang.
Banyak orang berdagang ilmu.
Banyak orang mengaku diri. Di luar putih di dalam jingga.
Mengaku suci, tapi palsu belaka.
Banyak tipu banyak muslihat.
Banyak hujan salah musim.
Banyak perawan tua. Banyak janda melahirkan bayi.
Banyak anak lahir mencari bapaknya. Agama banyak ditentang.
Perikemanusiaan semakin hilang.
Rumah suci dijauhi.

 

[Saduran bebas Jangka Jayabaya]

Bukankah sekarang ini hal-hal di atas terjadi di Indonesia ?
semoga saja kita bukan termasuk orang yang tersesat...
amiien....


Referensi:

Ramalan Jayabaya. (2009, November 14). Wikipedia, . Diakses pada 19:41, Desember 1, 2009 dari http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ramalan_Jayabaya&oldid=2672240

Puasa di Indonesia

Seorang sahabat bertanya :
Layakkah seorang yang berpuasa itu untuk memberitahukan semua orang bahwa dia berpuasa ?
Sebab, kata dia, saat ini, di jaman yang serba kebalik ini,
orang berpuasa memang minta dihormati..
warung-warung disuruh tutup siang hari,
kalau masih buka akan didatangi gerombolan yang ngakunya santri.
Bahkan lapo-lapo pun ikut ditutup.
Haah?
Emang apa hubungannya lapo dengan orang puasa?
Emangnya kalau tidak lagi puasa, orang-orang itu akan ke lapo?


Negeri ini emang aneh...
Di saat puasa, dimana seharusnya aktifitas kerja berjalan normal,
kondisi puasa justru dijadikan alasan untuk lebih banyak berisitirahat..
bahkan di rumah sakitpun, ada petugas yang menolak mendaftar pasien dengan alasan puasa...


puasa itu untuk menahan godaan & hawa nafsu...
bukan terus berarti godaannya / hawa nafsunya yang dihilangkan dong?
Kalau godaan hilang, hawa nafsu hilang... buat apa kita berpuasa?
Justru karena kita semakin banyak menahan godaan,
pahala kita makin besar...


Mungkin pada suatu saat nanti...
di Indonesia ini akan ada saatnya 'puasa tanpa godaan'
puasa akan kehilangan esensinya, kehilangan makna

puasa hanya akan sekedar menahan lapar & dahaga saja...
maka lapar serta haus sajalah yang akan didapatkan oleh manusia Indonesia saat itu..


pantas saja negeri ini ditimpa banyak bencana...
banyak orang mulai meninggalkan esensi agamanya,
diganti dengan logika sekenanya..
agama hanya dijadikan simbol legalitas politik dan kekuatan kelompok

nb: 
lapo = warung makan khas Batak, yang biasanya menyajikan makanan yang diharamkan bagi umat Islam. 
Tulisan ini pernah dimuat pada blog pribadi saya di Multiply pada tahun 2007.

Sabtu, 28 November 2009

Senang jadi Orang Miskin atau Administrasi yang Tak Becus?

Beberapa tahun terakhir ini, selalu ada berita ‘aneh’ seputar pembagian daging Qurban. Salah satu contohnya dapat dilihat di sini:
Vivanews: Tak Dapat daging kurban, banyak warga emosi

Pertanyaan di atas itu cuma salah satunya saja. Ada banyak pertanyaan yang muncul, mungkin harus diadakan investigasi khusus yang akan memakan waktu untuk menjawab semuanya. Selama Qurban itu masih dipandang sebagai sekedar ritual & dilaksanakan secara sporadis, dilakukan oleh lembaga-lembaga, masjid-masjid, atau perorangan secara independen dan tak terkoordinasi seperti saat ini, masalah akan selalu muncul. Tak menutup kemungkinan, warga yang ‘tidak terlalu miskin’ menerima lebih dari 1 paket daging Qurban, sedangkan warga di tempat lain yang ‘benar-benar miskin’ justru tidak menerima sama sekali.

Saya pikir gerakan Qurban ini idealnya lebih dari sekedar ritual ibadah. Qurban hendaknya menjadi suatu gerakan nyata yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saya meyakini, pada masa Rasulullah, Qurban ini merupakan sarana untuk mendamaikan suku-suku Arab yang sering bertikai. Qurban bukan hanya dinikmati oleh Umat Muslim, namun oleh seluruh masyarakat di wilayah Arab saat itu. Pembagian daging menjadi awal dari suatu proses rekonsiliasi, terlepas dari segala perbedaan keyakinan yang dianut oleh suku-suku itu. Ini adalah proses sosial politik yang diritualkan agar menjadi pelajaran bagi umat-umat berikutnya. Namun bangsa ini malah lebih mementingkan ritual daripada esensi dasar dari proses Qurban itu. Oleh karena itu gerakan nyata yang saya bayangkan agaknya masih sulit diterima jika dijabarkan lebih lanjut. Akan ada waktu yang lebih tepat untuk menyampaikannya nanti.

Saat ini, saya hanya berharap, paling tidak ada pembenahan dalam tata laksana pelaksanaan Qurban. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan salut untuk terobosan dari Rumah Zakat Indonesia dan Rumah Yatim Indonesia – atau mungkin juga lembaga lainnya yang belum saya ketahui – yang berinisiatif memproses daging Qurban sehingga dapat bertahan lebih lama sehingga bisa didistribusikan ke wilayah yang lebih luas dan Insya Allah memberikan manfaat untuk lebih banyak orang.
Selanjutnya adalah hal-hal yang menurut saya dapat dilakukan untuk memperbaiki pelaksanaan Qurban & pendistribusiannya:
  1. Kejelasan SIAPA yang berhak menerima daging Qurban

    Dalam hal ini harus ada dasar untuk menetapkan KRITERIA orang yang berhak menerima daging Qurban. Entah berdasarkan umur, pekerjaan, penghasilan, tempat tinggal, status sosial, dsb. Dalam kenyataannya, masih banyak yang menetapkan penerima daging Qurban berdasarkan perasaan. Dari kriteria ini, akan diperoleh JUMLAH yang akurat dari penerima daging Qurban.

  2. Ketersediaan DATA yang akurat & dapat dipertanggungjawabkan tentang penerima daging Qurban. Data ini paling tidak meliputi:
    • Jumlah penerima
    • Lokasi penerima

  3. Penunjukan PENANGGUNG JAWAB pendistribusian daging Qurban

    Pelaksanaan ibadah Qurban merupakan suatu proyek besar yang melibatkan banyak orang, tenggat waktu pelaksanaan & urutan proses yang harus dilaksanakan. Aneh jika tidak ada penanggung jawab untuk program sebesar ini. Jika setiap lembaga & masjid bergerak sendiri-sendiri menetapkan penerima daging Qurban, tidak menutup kemungkinan terjadinya penerimaan ganda ataupun justru ada yang terlewat karena tak ada yang merasa bertanggung jawab.

    Oleh karena itu harus ada LEMBAGA yang bertanggung jawab dalam pelaksanaannya, yang berwenang membuat perencanaan, melakukan pembagian tugas, mengawasi pelaksanaan & memastikan daging Qurban sampai kepada orang yang berhak menerimanya.

  4. Penetapan TARGET jumlah daging Qurban yang akan didistribusikan

    Berdasarkan data jumlah penerima, lokasi & segala detilnya, barulah dapat ditetapkan berapa jumlah daging qurban yang HARUS didistribusikan. Dari jumlah itu, dapat ditentukan berapa JUMLAH HEWAN Qurban yang harus diadakan dan siapa yang harus mengadakannya.

  5. Penetapan TENGGAT waktu pengumpulan & pemrosesan hewan Qurban

    Sebagaimana sebuah proyek, harus ada tenggat waktu untuk memastikan pelaksanaan ibadah ini berjalansebagaimana mestinya. Jadi dalam hal ini, panitia pelaksana harus mengejar target & bukan hanya menunggu. Evaluasi harus dilakukan sebelum tenggat, agar dapat diputuskan langkah yang diambil jika ada ketidaksesuaian antara target dan pencapaian.

  6. Penetapan PROSEDUR atau tata laksana pembagian daging Qurban

    Proses pengemasan daging Qurban merupakan langkah yang baik sehingga daging tersebut dapat bertahan lebih lama. Langkah ini juga memungkinkan daging dibawa ke tempat-tempat yang jauh, yang memang lebih membutuhkannya ketimbang didistribusikan di wilayah perkotaan yang fasilitasnya sudah lengkap. Andainya langkah-langkah 1 s.d 6 dapat terpenuhi, seharusnya tidak banyak lagi kendala untuk pelaksanaan langkah ke-6 ini.



Sesudah semua prosedur dilaksanakan, tentulah harus ada proses evaluasi dan pertanggung jawaban, sehingga pelaksanaan program ini dari tahun ke tahun menjadi semakin baik. Hal lain yang secara otomatis terkait dengan Qurban, sebetulnya bukan hanya penerimanya, tetapi SIAPA YANG HARUS BERQURBAN. Agaknya sampai sekarang pun belum ada data resmi, berapa jumlah warga yang berkurban dan berapa hewan Qurban yang disembelih secara nasional, sehingga tidak bisa disimpulkan, seberapa besar kesadaran masyarakat untuk berqurban. Ini memerlukan proses pendidikan & penyadaran yang agaknya lebih sulit daripada pelaksanaan hal-hal yang sudah saya tuliskan di atas tadi.

Kenyataannya, dalam beberapa kali pelaksanaan Qurban para pamong desa hingga tingkat RT-RW masih sulit memberikan data warga yang berhak menerima daging Qurban. Warga di pedesaan lebih senang memilih jawaban mudah: “Semua yang di sini miskin, semua berhak dapat daging Qurban”.
Yah, agaknya negeri yang ideal itu memang masih sangat jauh :-)

Kamis, 26 November 2009

2012 – Bukan seperti dalam Film

Yahhh ... namanya juga film, jadi harus dibuat dramatis agar bisa menarik penonton untuk datang dan mau mengeluarkan uang. Kejadian sesungguhnya tidak akan seperti yang terjadi di film itu, jadi dalam satu hal film itu memang 'menyesatkan' masyarakat yang menonton dengan memberi persepsi yang keliru tentang 2012. Tapi tetap saja, menurut saya terlalu berlebihan kalau sampai dikeluarkan fatwa haram. Kalau fatwa itu dikeluarkan, kasihan industri film horror Indonesia, bukankah film-film horror tentang pocong dan kawan-kawannya itu juga memberikan persepsi yang keliru?
Jadi, catatan kali ini mencoba obyektif dengan apa yang sebenarnya sedang berlangsung menjelang 2012 sebagai suatu siklus alam.

1. Kalender suku Maya
Kalender suku Maya disebutsebut merupakan acuan untuk menentukan 2012 sebagai ‘akhir zaman’. Kalender ini menarik karena merupakan kalender paling kuno & paling akurat yang pernah dilihat oleh manusia. Bukan benar-benar paling kuno dalam arti tidak ada yang lebih tua, tapi karena kalender itu yang paling tua dari ‘yang ada saat ini’. Mungkin saja, 5-10 th ke depan kita temukan kalender purba di Papua yang sama akuratnya namun lebih tua daripada milik suku Maya itu. Who knows?
Referensinya, silakan lihat hal tentang sistem kalendar Maya di Wikipedia.
Perbedaan utama kalender tersebut dengan kalender modern adalah bahwa kalender itu bukan hanya menghitung setahun dengan 365 hari, tetapi juga menampilkan perhitungan yang disebut sebagai periode suci yang terdiri dari 13 bulan yang masing-masing memiliki 20 hari (lihat di sini). Catatan penting lainnya, kalender itu cocok dengan perjalanan tata surya melintasi galaksi dan mampu menghitung dengan tepat peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan pergerakan benda-benda angkasa (celestial body) seperti konjugasi planet-planet, kedatangan komet, gerhana bulan & gerhana matahari.
Dengan menggabungkan perhitungan tahunan 365 hari dan periode suci yang hanya 260 hari, kalender suku Maya ini memiliki periode perulangan besar setiap 5125 tahun. Menurut perkiraan para ahli, periode besar yang sedang berlangsung saat ini diawali pada tahun 3114 SM. Artinya, kalender itu akan berakhir pada tahun 2012 M. Tetapi kapan tepatnya akhir dari kalender itu masih menjadi bahan perdebatan.
Sebagaimana kalender lainnya, kalender ini bersifat periodic-cyclic. Artinya, akhir suatu periode akan segera diikuti periode selanjutnya. Suku Maya sendiri tidak pernah menyebutkan akhir dari periode yang sekarang berlangsung sebagai hari kiamat.  Jadi jika pun benar periode itu berakhir pada 2012, bukankah setiap tahun kita juga mengganti kalender di rumah kita tanpa perlu mencemaskan akan terjadi bencana?

2. Benda angkasa besar yang lewat dekat dengan bumi
Benda angkasa besar (celestial body) yang akan lewat dekat dengan bumi ini memang sudah mulai menjadi pembicaraan sejak tahun 2004.  Sebelumnya sudah ada ramalan tentang benda angkasa yang akan menabrak bumi pada 2003, namun ketika tahun tersebut dapat dilewati dengan selamat, maka ramalannya berubah menjadi 2012.  Penemuan planetoid Xena di luar orbit Pluto menguatkan pendapat bahwa masih ada benda besar lain yang belum diketahui oleh manusia.
Yang menarik, bangsa Sumeria kuno sudah menggambarkan adanya planet ke 10 ini - yang mereka sebut planet Nibirru - dalam relief-relief yang mereka tinggalkan (lihat tentang planet X).
Penemuan benda-benda angkasa besar dan kemungkinannya 'menabrak' bumi sudah sering menjadi isu. Film Armageddon yang dibintangi Bruce Willis merupakan salah satu film yang dibuat berdasarkan isu seperti itu. Faktanya, bumi sudah sering berpapasan dengan benda-benda angkasa seperti komet Halley, komet Shoestring, dan sebagainya tanpa menimbulkan masalah besar. Memang ada pengaruhnya, namun tidak seheboh isu yang timbul di masyarakat.

3. Pergeseran kutub bumi
Benda angkasa yang akan lewat di dekat bumi dikuatirkan akan menyebabkan terjadinya pergeseran kutub bumi (Pole Shift) atau bahkan pembalikan kutub (Pole Reversal). Sebetulnya, menurut teori, pergeseran ini merupakan suatu siklus yang pasti akan terjadi untuk menjaga supaya bumi tetap bulat. Bukti-bukti geologis di seluruh dunia menunjukkan bahwa pergeseran ini memang pernah terjadi dan agaknya merupakan suatu siklus. Fenomena ini menyebabkan perubahan iklim di berbagai lokasi: es di kutub mencair & mengakibatkan banjir, sedangkan daerah yang sebelumnya beriklim tropis berubah menjadi dingin membekukan. Akibat lain yang mungkin muncul adalah perubahan cuaca yang ekstrim, gelombang besar di lautan, timbulnya badai, dan berbagai peristiwa alam lainnya yang menyebabkan kepunahan sebagian makhluk hidup [1].
Faktanya, frekuensi getaran dasar (basic vibration) bumi memang mengalami perubahan yang menunjukkan tanda-tanda bahwa pergeseran kutub sedang terjadi. Frekuensi yang dikenal dengan istilah Earth Hum ini awalnya adalah 7,8 Hz namun akhir-akhir ini sudah meningkat hingga di atas 11 Hz.
Pergeseran kutub bumi ini sudah pasti akan menimbulkan gangguan pada sistem navigasi yang dimiliki oleh manusia saat ini, tetapi itu akan bisa diatasi dengan penyesuaian perhitungan matematis pada tingkat software. Film The Core merupakan sebuah film yang dibuat berdasarkan teori ini.
Namun kalaupun itu terjadi, pergeseran tidak terjadi secara mendadak, tidak dalam waktu dekat & tidak akan menimbulkan kiamat. Toh bumi masih bertahan hingga sekarang, setelah melewati beberapa kali pergeseran kutub yang menimbulkan jaman es. Toh manusia masih bertahan, meskipun beberapa jenis binatang mengalami kepunahan. Justru pergeseran kutub yang menyebabkan perubahan iklim & punahnya binatang-binatang tersebut agaknya memberi manusia kesempatan untuk berkembang menjadi lebih maju.
Video tentang pergeseran kutub bumi dapat disaksikan di sini:
http://www.youtube.com/watch?v=anX-ADM1US4

4. Manusia akan memasuki Tahap Evolusi berikutnya
Yang terakhir ini rasanya tak perlu dibahas terlalu panjang. Evolusi pada manusia memang terus terjadi. Kita bisa membandingkan pertambahan rata-rata tinggi prajurit Amerika yang bertugas pada mas PD II, pada tahun 1960-an & prajurit modern saat ini. Pengamatan yang dilakukan pada rata-rata tinggi tubuh orang Jepang juga memberikan hasil yang sama. Perubahan pola makan, gaya hidup, penggunaan obat-obatan kimia, dan pemikiran manusia akan membawa perubahan pada umat manusia secara keseluruhan.
Isu yang dibawa pada 2012 adalah perubahan pada tingkat mental & kesadaran manusia secara rohani, bukan perubahan secara fisik. Jadi agaknya tak perlu dikuatirkan.
Pada akhirnya, manusia masih akan bertahan. Kiamat adalah misteri yang hanya Tuhan memegang kuncinya.

Selasa, 24 November 2009

Mutiara dari Timur


Setelah beberapa seri Potret Suram, saatnya menulis Potret Cerah. Mungkin ada yang belum tahu bahwa Papua adalah salah satu penghasil calon pemenang nobel, terutama di bidang fisika.  
 

Dimulai dari tahun 2004, ketika Septinus George Saa memenangkan lomba First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004 dari Indonesia. Makalahnya berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor. Makalah ini menjelaskan cara menghitung nilai hambatan total dari sebuah rangkaian resistor yang jumlahnya tak terhingga yang tersusun secara segitiga dan hexagonal.

Tahun 2005, Annike Nelce Bowaire (SMUN 1 Serui) di Papua, berhasil meraih medali emas atas makalahnya yang berjudul Chaos in an Accelerated Rotating Horizontal Spring di lomba The First Step to Nobel Prize in Physics. Makalah Annike bertutur tentang gerakan chaos pada pegas yang diputar horisontal. Ide itu muncul pada Olimpiade Fisika 2004, di mana ketika melakukan gerakan horizontal tiba-tiba muncul chaos. Ide ini menarik Annike karena selama ini yang sudah diketahui barulah chaos pada pegas yang diputar vertikal.

Nah... siapa yang bilang pendidikan di daerah itu tertinggal ? Mereka memang tertinggal dari sisi fasilitas, tapi dari sisi kemampuan... mereka tidak kalah dari anak-anak manja Jakarta yang sibuk mencari eksistensi diri dengan bermodal harta orang tua :p


[Catatan : tulisan ini disalin dari jurnal pribadi di Multiply]

Masih murnikah demo mahasiswa saat ini ?

Judul di atas terbersit ketika saat itu melihat tayangan di TV. Demo mahasiswa begitu brutal dalam menentang kenaikan BBM. Bahkan masih banyak kejadian tawuran mahasiswa cuma karena masalah sepele, seperti masalah perebutan cewek, perebutan halte bis... 
Bah..! Jaman gini masih tawuran ??? !

Dari kelakuan para mahasiswa ini jelas sekali potret kegagalan pendidikan negeri ini. Masih ada cara-cara brutalisme & premanisme dalam pola pikir seorang mahasiswa, seorang kader bangsa yang seharusnya dapat berpikir lebih jernih dibanding seorang preman. Bagaimana kalau dia jadi seorang pemimpin ya nantinya? Pasti jadi pemimpin yang preman juga khan..?

Menurut saya, tidak ada lagi kebanggaan sebagai seorang mahasiswa yang dapat diperlihatkan oleh mereka. Pendidikan telah menjadi industri yang mengabaikan nilai-nilai sopan-santun, penghargaan atas nilai-nilai etika bahkan mengabaikan juga kaidah2 keilmuan. Para mahasiswa ini sibuk berkeluh kesah atas kejadian yang menimpa negeri ini, tetapi tidak mampu memberikan solusi yang berarti. Sibuk menyalahkan pemerintah, sementara dia sendiri ugal-ugalan menggunakan fasilitas yang dibangun dengan uang rakyat (bagi mahasiswa PTN).

Memang, dari pengamatan yang dilakukan, mahasiswa yang terancam DO, IP rendah, cenderung berani melakukan unjuk rasa.. Mungkin bagi mereka, toh tidak ada bedanya mereka keluar dari PTN itu karena DO atau karena demo :p

Kalau memang mereka punya 'otak', mereka lebih baik menciptakan cara bagaimana membuat bahan-bakar alternatif, kendaraan hemat energi, tindakan menghemat yg tidak menyengsarakan,.. atau bahkan hal yang paling sederhana, menyelesaikan studinya tepat waktu. Bagaimanapun juga, mahasiswa PTN itu mendapat subsidi dari rakyat, oleh karena itu sepatutnya mereka menggunakan uang rakyat itu dengan bertanggung jawab. Balaslah budi baik rakyat Indonesia ini dengan tindakan yang berarti, bukan hanya demo yang tidak jelas & perbuatan anarkis.

Senin, 23 November 2009

Siswa tidak lulus adalah kesalahan sekolah ?

Mengamati berbagai kejadian tentang pelaksanaan UAN, yang sempat terpantau dari media massa, membuat saya berpikir betapa terpuruknya pendidikan menengah di Indonesia saat ini. Dan, kalau pendidikan menengah sudah terpuruk, maka imbasnya akan mengena pada pendidikan tinggi.

Mari kita lihat simak peristiwa tertangkapnya beberapa oknum guru di Sumatera Utara oleh Densus 88 karena ketahuan sedang mengoreksi jawaban murid-muridnya [baca di sini]. Di satu sisi, keterlibatan Densus 88 dalam penangkapan ini, menurut saya agak berlebihan. Aparat kepolisian saja sebenarnya cukup untuk menangani hal ini.
Memang, para guru ini telah dituduh dengan pasal membocorkan rahasia negara. Dan memang, dokumen UAN adalah rahasia negara, dan para pengawas tersebut sebenarnya harus sudah menandatangani surat perjanjian untuk menjaga kerahasiaan dokumen negara tersebut. Namun, kesalahan para guru tersebut sebenarnya lebih dalam lagi, yaitu menodai esensi dari proses pendidikan itu sendiri.

Memang sebagai pendidik yang baik, kadang-kadang seorang guru bertindak bagai orang tua bagi murid-muridnya. Hubungan batin yang terbina di antara mereka, kadang-kadang jauh lebih dekat dibanding dengan kedekatan siswa dengan orang tuanya sendiri. Namun, hal ini tetap tidak dapat menjadi pembenaran bagi tindakan kecurangan yang dilakukan. Namun, ada saat-saat di mana guru dan orang tua harus melepas anak-anak mereka untuk menguji kemampuan mereka. Ujian adalah salah satu ajang dimana seorang anak diuji kemampuan otak, kepribadian dan mentalnya. Dan sebaiknya, guru & orang tua harus percaya akan kemampuan mereka. Biarkan mereka mandiri dan belajar bertanggung jawab atas diri mereka. Biarkan mereka menerima konsekuensi atas semua yang mereka lakukan, dan biarkan mereka menunjukkan kemampuan mereka.

Ini adalah satu tahap yang penting dalam hidup seorang remaja (siswa). Jika seorang guru merusaknya dengan cara-cara curang, membantu mereka dalam ujian, maka akan rusaklah mental mereka selamanya. Mereka akan menerima keberhasilan semu, yang tidak akan bertahan lama. Dapat dipastikan, mereka tidak akan masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Kalau sudah begini, maka angka pengangguran akan bertambah. Kalaupun mereka diterima di perguruan tinggi, mental yang sudah tercipta ini akan sulit hilang. Mereka akan terus hidup bergantung pada pertolongan orang lain dan tidak akan bertahan dalam kehidupan nyata.

Dari dasar pemikiran ini, seharusnya sekolah tidak perlu khawatir kalau ada siswanya yang tidak lulus. Walau bagaimanapun, kemampuan siswa pasti berbeda-beda. Motivasi mereka bersekolah juga berbeda. Jadi wajar kalau ada yang gagal dan ada yang berhasil. Justru di sinilah letak keberhasilan sebuah pendidikan. Pendidikan harus berhasil menciptakan orang orang yang mampu menguasai bidang sampai pada tingkat tertentu. Namun, pendidikan tidak membatasi waktu pencapaian. Memang ada siswa yang mampu menyerap bahan ajar dalam waktu 3 tahun, tetapi ada juga yang baru bisa menyerap dalam 4-5 tahun.

Sekolah tidak bersalah jika ada siswanya yang gagal, jika memang sekolah itu telah melaksanakan semua prosedur pendidikan dengan baik. Penyebab kegagalan seorang siswa bisa bermacam-macam. Faktor sekolah mungkin salah satu, tapi bukan satu-satunya. Ada faktor lingkungan dan orang tua dalam hidup seorang manusia. Dan menurut saya, faktor pengaruh orang tua/ keluargalah yang paling berpengaruh pada kehidupan seorang remaja.
Seseorang akan gagal, jika ketiga faktor tersebut tidak seimbang. Kekurangan di salah satu faktor, harus dapat diimbangi dengan kelebihan di faktor-faktor lain. Sekolah bukanlah sebuah faktor yang super power, yang mampu menyeimbangkan kehidupan seorang siswa. Sebaiknya hal ini dapat dipahami dengan baik oleh para penyelenggara pendidikan, sehingga di masa mendatang tidak terjadi lagi penilaian sepihak yang akan secara otomatis menyalahkan peran sekolah atas kegagalan seorang siswa.


Sebagai seorang yang berangkat dewasa, seorang siswa harus sadar dan berani untuk melihat kenyataan dunia nyata. Dunia dimana dia harus bertanggungjawab atas semua perbuatan dan usahanya... 

Siswa sekarang makin lembek ?

Masih tentang pelaksanaan UAN.
Adanya keluhan dari peserta ujian, bahwa pengawas yang berjalan-jalan di kelas mengganggu konsentrasi mereka. Mereka mengeluh stres karena ada pengawas yang berjalan-jalan seperti itu.
Fungsi pengawasan ujian yang benar memang tidak hanya di depan kelas. Sesekali pengawas harus berjalan mengelilingi kelas untuk mengamati kalau-kalau terjadi kejanggalan & pelanggaran akademik yang mungkin dilakukan oleh siswa. Asalkan pengamatan ini dilakukan secara wajar dan proposional, maka seharusnya keluhan ini tidak akan terjadi.
Saya justru curiga, bahwa oknum siswa yang mengeluhkan terganggunya konsentrasi mereka ini memang sengaja membuat agar sang pengawas tidak berjalan-jalan di kelas, sehingga dia akan lebih leluasa melakukan pelanggaran akademik (mencontek). Lebih parahnya, ada beberapa kepala sekolah yang akhirnya melarang pengawas untuk berjalan-jalan di kelas. Kepala sekolah tersebut cenderung mendengarkan 'keluhan' siswa tanpa terlebih dahulu melihat apa yang terjadi sesungguhnya, karena memang takut bahwa akan ada anak didiknya yang tidak lulus UAN.

Stress pada saat ujian? Kalau anda tidak siap, maka anda akan stres.. Lagipula, siapa sih yang tidak stres pada saat menghadapi ujian? Stres pada saat ujian itu biasa bung ! Kalau anda tidak mau stres menghadapi ujian, ya lebih baik tidur saja di rumah :p
 

Persiapkan diri anda menghadapi ujian dengan baik, dengan belajar dari jauh-jauh hari. Ujian itu bukan hanya menguji isi otak anda, tapi juga mental anda. Percayalah, kalau anda cuma menyiapkan bahan ujian dalam waktu semalam, justru otak anda yang akan 'hanged', sehingga esok paginya anda akan gagal mengerjakan ujian. Kenali dengan baik diri anda, cara belajar anda dan tingkatkan terus semangat untuk meraih pengetahuan yang lebih luas. Selanjutnya, serahkan semuanya pada Tuhan YME.

Dunia pendidikan Indonesia memang sudah terbalik. Guru sangat mudah diperdaya oleh murid, karena ketakutannya terhadap adanya siswa yang tidak lulus UAN di sekolahnya. Bahkan, baru saja saya mendengar berita di TV bahwa ada sekumpulan guru yang tertangkap karena mengkoreksi jawaban murid-muridnya...
Pemerintah seharusnya tidak perlu menargetkan angka kelulusan 100% bagi sekolah-sekolah di Indonesia. Ada siswa yang tidak lulus itu sebenarnya dan seharusnya dianggap biasa. Itu menunjukkan bahwa memang ada proses penyaringan mutu sejak dini. Di pihak siswa, mereka akan jadi lebih sadar bahwa memang ada kemungkinan gagal dalam semua aspek di kehidupan ini. Sehingga diharapkan mereka akan lebih mawas diri dan berusaha lebih keras untuk belajar. Lulus itu bukan tujuan, namun lebih merupakan konsekuensi logis dari proses belajar yang benar. 


Saat ini, kelihatannya ada sistem penilaian dari Depdikbud yang akan menganggap sebuah sekolah dianggap gagal melaksanakan pendidikan bila ada siswanya yang tidak lulus. Dan ini akan berdampak pada penilaian selanjutnya terhadap sekolah tersebut. Sungguh memalukan jika angka kelulusan dijadikan patokan, karena bagaimanapun hal ini bisa saja diakali dengan merendahkan passing grade. Passing grade beberapa pelajaran SMA saat ini ada yang cuma 4 lho..! Lhah, kalau nilai 4 saja tidak tercapai, apakah harus dipaksakan lulus ???


Paradigma Depdikbud ini harus dicermati lebih lanjut, karena bagaimanapun juga, mutu pendidikan tidak bisa dikorbankan hanya karena ada kepentingan komersial. Well, saya sebut ini kepentingan komersial di sini karena: bagi sebuah sekolah, semakin banyak yang dia luluskan berarti makin banyak yang bisa dia terima. Karena nilai uang masuk bisa lebih besar dibanding dengan uang SPP satu tahun seorang siswa yang tinggal kelas, maka sekolah akan lebih memilih untuk meluluskan 'siswa tidak layak lulus' ini dan menerima siswa baru.
 


Pengalaman Mengawas UAN SMA

Seminggu berlalu semenjak dilaksanakannya UAN SMA se Indonesia. Berikut ini beberapa catatan tentang pelaksanaan UAN tersebut, terutama dari tempat saya menjadi salah seorang pemantau independen di kota Bandung.

Pelaksanaan hari pertama, ditandai dengan masih adanya tumpang tindih koordinasi dan tatacara pelaksanaan ujian. Walau sudah ada briefing sebelumnya tentang tata cara pengumpulan lembar jawab dan pengiriman lembar jawab tersebut ke lokasi sub rayon, namun masih ada kebingungan tentang bagaimana seharusnya lembar jawab tersebut dikumpulkan. Pada lembar Standard Operation Procedure (SOP), dituliskan bahwa lembar jawab harus dikumpulkan pada sebuah amplop yang tersegel. Masalah kata 'segel' ini ternyata membuat sedikit masalah, karena panitia di lokasi menganggap bahwa 'lakban' cukup untuk menjadi segel, tetapi panitia di sub rayon menyatakan harus dengan lem. Bukan kesalahan serius, tetapi cukup mengganggu.

Pengawas ruang yang memang berasal dari sekolah lain, terkesan tidak mengawasi dengan serius. Beberapa murid yang 'tengak-tengok' tidak ditegur, dan cenderung dibiarkan. Saya tidak pernah lihat hal seperti ini pada saat saya sekolah dulu, dimana murid dengan serius mengerjakan ujiannya. Banyaknya peserta ujian yang meninggalkan kelas untuk ke kamar kecil seolah menjadi pemandangan yang biasa. Apakah hal ini sudah menjadi 'code of conduct' dari masing2 guru saat ini? Hal ini perlu diteliti lebih jauh.

Masih terdapat pengawas yang menggunakan alat komunikasi (walau pada saat menelpon berada di luar kelas yang diawasinya).  Pada SOP,  kegiatan membawa alat komunikasi adalah DILARANG, baik bagi peserta maupun pengawas.  Ada baiknya di masa mendatang, perlu dipasang GSM /CDMA jammer di ruang ujian, sehingga komunikasi di ruang itu akan terblok. Tapi, bukan itu masalahnya... Guru /pengawas di sini memberikan contoh yang buruk bagi anak muridnya. Kalau gurunya tidak mematuhi aturan, bagaimana mereka bisa mengharapkan anak didiknya mematuhi aturan juga?

[Tulisan asli ditulis tanggal 30 April 2008, bersambung]

Kenapa Pacaran Jangan Terlalu Lama ?

Sebuah penelitian di University of Pavia di tahun 2005 menemukan bukti bahwa ada peningkatan jumlah sebuah molekul protein yang dikenal dengan nama Nerve Growth Factor (NGF) pada kelompok orang yang sedang mengalami cinta pertama/ sedang jatuh cinta. Tapi, peningkatan ini hanya bertahan setahun, setelah itu, NGF akan turun ke level sebelum orang itu jatuh cinta. Jumlah tingkat NGF ini ditemukan lebih tinggi, secara signifikan, pada orang yang sedang jatuh cinta (awal) dibandingkan pada kelompok orang yang single ataupun yang sudah memiliki/ menjalin hubungan lebih lama.

NGF ditemukan pertama kali oleh Rita Levi-Montalcini and Stanley Cohen, yang akhirnya dianugerahi Nobel di bidang kedokteran karena penemuannya ini, pada tahun 1986.
NGF adalah sekelompok protein yang bertanggung jawab pada masalah pertumbuhan sel dan juga organ tubuh. Aktifnya NGF ini membuat sel2 syaraf menjadi berkembang, melakukan regenerasi. Hubungan antar saraf menjadi aktif, dan ini membuat sibuk salah satu neurotransmitter, dopamine. Dopamine ini biasanya dihubungkan dengan sistem kenikmatan di otak (menyediakan perasaan senang dan menguatkan motivasi/ semangat seseorang untuk melakukan sesuatu). Inilah yang membuat orang yang sedang jatuh cinta merasa lebih muda, ingin mengenal lebih jauh pasangannya, lebih bersemangat.

Namun, sejalan dengan waktu, efek NGF ini akan berkurang, sehingga semangat anda untuk mengenal lebih jauh pasangan anda, ikut juga melemah. Kalau anda masih pada tahap berpacaran sampai pada saat NGF ini kembali ke level normal, maka rasa cinta anda bisa disebut hambar. Hal inilah yang menyebabkan rasa bosan pada hubungan anda, anda ingin mencari hal baru lagi... dan akhirnya anda akan cenderung mengakhiri hubungan anda..

Jadi, kalau anda memang sedang jatuh cinta sekarang, jangan tunggu 1 tahun lagi untuk melangkah lebih jauh. Tentukan semua langkah anda sebelum umur pacaran anda 1 tahun.
Lanjutkan ke tahap lebih lanjut atau ganti suasana, sebelum efek NGF menghilang...

Attractiveness Factor

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa hanya butuh waktu antara 90 detik sampai 4 menit untuk dapat menentukan apakah seseorang menarik bagi yang lain, penyebabnya adalah :
  1. 55% karena bahasa tubuhnya
  2. 38% karena tekanan suara (tone) dan kecepatan bicara
  3. Dan hanya 7% karena isi pembicaraannya
Jadi, latihlah bahasa tubuh anda... tunjukkan bahwa anda mengagumi dia. Kalau anda mengira bahwa seorang wanita akan dapat tertarik pada perkataan anda yang bombastis, sebenarnya dia akan lebih melihat pada gerak-gerik anda pada saat anda berbicara... dan dari situlah anda dinilai !

Jika anda merasa gagal mendekati seorang wanita/pria, jangan gunakan kata-kata lagi untuk menyatakan betapa cintanya anda padanya. Tunjukkanlah lebih banyak perhatian, yang terlihat jelas pada bahasa tubuh/ gerak-gerik anda. Kemungkinan berhasilnya 55% dibanding 7%... Cukup signifikan..!

Oya.. ada satu lagi yang hampir lupa..

Banyak cowok mengira bahwa wanita itu mudah dibohongi dengan kata-kata... Hasil penelitian di atas menunjukkan sebaliknya ! Justru wanita tidak terlalu tertarik dengan isi pembicaraan anda. Jadi, kalau anda mengira anda telah berhasil membohongi wanita dengan kata-kata, justru andalah yang tertipu :D


Tapi, fakta di atas juga menunjukkan bahwa wanita, 'lebih mudah tertipu' dengan penampilan (bahasa tubuh) anda :D.

Tapi masalah tipu-menipu tidak akan dibahas di sini... Ini hanya fakta, soal penggunaan fakta ini, terserah anda... :D

Apa yang dilihat wanita dari seorang pria ?


Sebuah penelitian di University of Texas menyimpulkan :
 "there is a consensus about what counts as attractive, and, for men, it is based on BMI (Body Mass Index) and facial features. For women it is based on BMI and cues about health and social status like income and education."

Jadi :
Pria memandang proporsi tubuh wanita dan wajah sebagai faktor yang membuat mereka tertarik pada seorang wanita, sementara wanita memandang pria menarik adalah kesehatannya dan status sosialnya (faktor gaji/ pendapatan & pendidikan)


Hehehe... menarik juga nih hasil penelitian ini.

Masuk akal juga, wanita akan selalu menginginkan (calon) anaknya akan mewarisi faktor genetis yang unggul dari ayahnya.. Jadi, bagi para pria lajang... jagalah kesehatan anda ! Jauhi alkohol, drugs, rokok dkk... dan tetap lakukan olah raga secara teratur...

Tentang wajah...., bagi pria yang punya tampang minus, jangan khawatir ! Asalkan status sosial anda memenuhi syarat ambang batas (threshold) tertentu, maka anda masih punya kesempatan mendapatkan seorang wanita. Walau tetap hati-hati, karena batas ini akan meningkat, sejalan dengan tingkat sosial si wanita..

BAP - Masih dapatkah dipercaya ?

Saat ini, BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dari sebuah proses penyelidikan polisi sedang ramai dibicarakan.. terutama karena BAP ternyata bisa di-'revisi' dan di-'edit'. Sampai saat ini, BAP masih menjadi acuan atas kesaksian yang akan diberikan di pengadilan. Dan terlebih lagi, kebenaran isi BAP menjadi dipertanyakan integritasnya setelah WW menyatakan bahwa proses pembuatan BAP-nya 'diarahkan' ...


Sementara, jaksa selalu bersama polisi memegang BAP ini bak kitab suci kebenaran. Padahal, BAP ini belum tentu benar. Secara logika (orang yang bisa berpikir tentunya), sesuatu yang terbukti pernah salah, tidak bisa dianggap selalu benar. Ini kesalahan fatal sistem hukum kita. Di sinilah semua kesaksian itu berasal. Sekali isi BAP ini direkayasa, maka proses selanjutnya akan semakin melenceng dari kebenaran.


Dulu, ada kasus yang sangat terkenal.. Kasus Sengkon & Karta, tahun 1974. Mereka dituduh dan didakwa bersalah karena membunuh sepasang suami istri. Sengkon dihukum 12 tahun dan Karta 7 tahun penjara. Tiga tahun setelah Sengkon dan Karta mendekam di penjara Cipinang, Jakarta Timur, baru terungkap kalau mereka bukanlah pembunuhnya. Sengkon dan Karta kemudian mengajukan peninjauan kembali (PK) dan Mahkamah Agung menyatakan mereka bukanlah pelakunya, setelah pelaku sebenarnya, Gundel mengaku sebagai pembunuh pasangan suami istri tersebut. Tapi sayang, gugatan ganti rugi yang diminta Sengkon dan Karta ditolak oleh Departemen Kehakiman. Tak lama kemudian, Sengkon tewas dalam kecelakaan sedangkan Karta meninggal karena sakit parah. Anda bisa membacanya di sini.


Kejadian 35 tahun silam tersebut, kini kembali terulang pada tiga orang masing-masing Devid Eka Priyanto, Imam Hambali alias Kemat, dan Maman Sugianto alias Sugik yang didakwa sebagai pembunuh Muhammad Asrori alias Aldo (24) oleh majelis hakim pengadilan Negeri Jombang, Jawa Timur.


Tapi, kemudian tuduhan tersebut terpatahkan setelah Very Idam Henyansyah alias Ryan, pembunuh berantai asal Jombang yang telah menghabisi 11 nyawa mengaku dan bersumpah pada polisi kalau yang membunuh Muhammad Asrori alias Aldo (24) itu adalah dirinya. Pengakuan Ryan ini juga diperkuat dengan bukti hasil tes DNA terhadap Mr X di laboratorium Mabes Polri. Hasilnya, tes DNA dari Mr X tersebut ditemukan 16 titik yang menunjukkan 99,99% DNA tersebut memiliki kecocokan dengan orang tua Asrori.


Nah.. cukup sampai di sini. Kedua cerita di atas, membuktikan bahwa polisi sebagai penyidik, mempunyai kuasa yang sangat besar untuk bisa melakukan rekayasa kasus. Terutama jika tersangkanya adalah rakyat biasa. Jika memang ada bukti korban,.. siapapun yang ditangkap polisi, bisa diarahkan untuk menjadi terdakwa. Bagaimana Sengkon, Karta, Devid, Kemat, Sugik bisa menandatangani BAP ? Padahal mereka tidak melakukan pembunuhan itu ? Kepolisian Jombang harus bertanggung-jawab dalam hal ini. Apakah ini kehebatan polisi Indonesia itu ? membuat seorang tak bersalah bisa mengakui kesalahan yang tidak dia perbuat ? Apakah jumlah kasus terselesaikan sebagai ukuran kinerja POLRI, dapat dicapai dengan menghalalkan segala cara ?
Hal inilah, menurut saya, yang menjadi akar dari 'ketidakpercayaan' rakyat terhadap polisi. Rakyat masih ingat pada cerita-cerita ini. Ini baru dua masalah yang terekspos media, trus, berapa sebenarnya kasus lagi yang tidak terekpos ?


Tidak mengherankan, jika saat ini rakyat tidak lagi percaya akan kinerja polisi. Apalagi, kasus saat ini menyudutkan POLRI sebagai sebuah institusi. Jika kelinci saja bisa disuruh mengaku sebagai tikus [baca: Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto], bagaimana dengan rakyat kecil ??? Menyedihkan sekaligus menyesakkan dada.. tapi inilah realita hukum Indonesia. Perlu ada reformasi total di kepolisian kita dan juga sistem hukum kita. Reformasi total dari sejak masa pendidikan malah.


Saya yakin, hanya dengan cara inilah sistem hukum kita bisa berdiri tegak & bersih lagi.


Vivat Indonesia !

[Catatan : tulisan ini disalin dari catatan pribadi di facebook]