Selasa, 24 November 2009

Mutiara dari Timur


Setelah beberapa seri Potret Suram, saatnya menulis Potret Cerah. Mungkin ada yang belum tahu bahwa Papua adalah salah satu penghasil calon pemenang nobel, terutama di bidang fisika.  
 

Dimulai dari tahun 2004, ketika Septinus George Saa memenangkan lomba First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004 dari Indonesia. Makalahnya berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor. Makalah ini menjelaskan cara menghitung nilai hambatan total dari sebuah rangkaian resistor yang jumlahnya tak terhingga yang tersusun secara segitiga dan hexagonal.

Tahun 2005, Annike Nelce Bowaire (SMUN 1 Serui) di Papua, berhasil meraih medali emas atas makalahnya yang berjudul Chaos in an Accelerated Rotating Horizontal Spring di lomba The First Step to Nobel Prize in Physics. Makalah Annike bertutur tentang gerakan chaos pada pegas yang diputar horisontal. Ide itu muncul pada Olimpiade Fisika 2004, di mana ketika melakukan gerakan horizontal tiba-tiba muncul chaos. Ide ini menarik Annike karena selama ini yang sudah diketahui barulah chaos pada pegas yang diputar vertikal.

Nah... siapa yang bilang pendidikan di daerah itu tertinggal ? Mereka memang tertinggal dari sisi fasilitas, tapi dari sisi kemampuan... mereka tidak kalah dari anak-anak manja Jakarta yang sibuk mencari eksistensi diri dengan bermodal harta orang tua :p


[Catatan : tulisan ini disalin dari jurnal pribadi di Multiply]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar