Tampilkan postingan dengan label realita sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label realita sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Desember 2009

Ramalan Jayabaya - Relevansi dengan kondisi Indonesia saat ini

Melihat kejadian di Indonesia saat ini, mengingatkan saya pada sebuah catatan lama saya di sekitar tahun 2007 yang menuliskan tentang ramalan Jayabaya.
Jayabaya adalah seorang raja di Jawa sekitar 900 tahun yang menuliskan sebuah karya sastra yang berisi prediksi tentang masa depan Jawadwipa. Bagi saya, beliau adalah futurologist & profiler pertama yang dimiliki bangsa Indonesia, yang dengan kebijaksanaannya mampu mengamati pola perilaku manusia Indonesia dan membuat sebuah prediksi profil perilaku sampai jauh melampaui jamannya. Alvin Toffler-pun tidak ada apa-apanya dibanding beliau  :)


Sekitar sembilan ratus tahun yang lalu, Jayabaya menulis, bahwa di masa depan, di Jawadwipa akan terjadi:

Bumi semakin lama semakin mengerut. Sejengkal tanah dikenai pajak.
Kuda suka makan sambal. Orang perempuan berpakaian lelaki.
Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik.
Banyak janji tidak ditepati. Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Orang-orang saling lempar kesalahan.
Tak peduli akan hukum Allah.
Yang jahat dijunjung-junjung. Yang suci (justru) dibenci.
Banyak orang hanya mementingkan uang.
Lupa jati kemanusiaan. Lupa hikmah kebaikan.
Lupa sanak lupa saudara. Banyak ayah lupa anak.
Banyak anak berani melawan ibu. Menantang ayah.
Saudara dan saudara saling khianat. Keluarga saling curiga.
Kawan menjadi lawan.

Banyak orang lupa asal-usul.
Hukuman Raja tidak adil. Banyak pembesar jahat dan ganjil
Banyak ulah-tabiat ganjil. Orang yang baik justru tersisih.
Banyak orang kerja halal justru malu. Lebih mengutamakan menipu.
Malas menunaikan kerja. Inginnya hidup mewah.
Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
Si benar termangu-mangu. Si salah gembira ria.
Si baik ditolak ditampik. Si jahat naik pangkat.
Yang mulia dilecehkan. Yang jahat dipuji-puji.
Perempuan hilang malu. Laki-laki hilang perwira
Banyak laki-laki tak mau beristri. Banyak perempuan ingkar pada suami.
Banyak ibu menjual anak. Banyak perempuan menjual diri.
Banyak orang tukar pasangan.

Perempuan menunggang kuda. Laki-laki naik tandu.
Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen). Lima perawan lima picis.
Duda pincang laku sembilan uang.
Banyak orang berdagang ilmu.
Banyak orang mengaku diri. Di luar putih di dalam jingga.
Mengaku suci, tapi palsu belaka.
Banyak tipu banyak muslihat.
Banyak hujan salah musim.
Banyak perawan tua. Banyak janda melahirkan bayi.
Banyak anak lahir mencari bapaknya. Agama banyak ditentang.
Perikemanusiaan semakin hilang.
Rumah suci dijauhi.

 

[Saduran bebas Jangka Jayabaya]

Bukankah sekarang ini hal-hal di atas terjadi di Indonesia ?
semoga saja kita bukan termasuk orang yang tersesat...
amiien....


Referensi:

Ramalan Jayabaya. (2009, November 14). Wikipedia, . Diakses pada 19:41, Desember 1, 2009 dari http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ramalan_Jayabaya&oldid=2672240

Puasa di Indonesia

Seorang sahabat bertanya :
Layakkah seorang yang berpuasa itu untuk memberitahukan semua orang bahwa dia berpuasa ?
Sebab, kata dia, saat ini, di jaman yang serba kebalik ini,
orang berpuasa memang minta dihormati..
warung-warung disuruh tutup siang hari,
kalau masih buka akan didatangi gerombolan yang ngakunya santri.
Bahkan lapo-lapo pun ikut ditutup.
Haah?
Emang apa hubungannya lapo dengan orang puasa?
Emangnya kalau tidak lagi puasa, orang-orang itu akan ke lapo?


Negeri ini emang aneh...
Di saat puasa, dimana seharusnya aktifitas kerja berjalan normal,
kondisi puasa justru dijadikan alasan untuk lebih banyak berisitirahat..
bahkan di rumah sakitpun, ada petugas yang menolak mendaftar pasien dengan alasan puasa...


puasa itu untuk menahan godaan & hawa nafsu...
bukan terus berarti godaannya / hawa nafsunya yang dihilangkan dong?
Kalau godaan hilang, hawa nafsu hilang... buat apa kita berpuasa?
Justru karena kita semakin banyak menahan godaan,
pahala kita makin besar...


Mungkin pada suatu saat nanti...
di Indonesia ini akan ada saatnya 'puasa tanpa godaan'
puasa akan kehilangan esensinya, kehilangan makna

puasa hanya akan sekedar menahan lapar & dahaga saja...
maka lapar serta haus sajalah yang akan didapatkan oleh manusia Indonesia saat itu..


pantas saja negeri ini ditimpa banyak bencana...
banyak orang mulai meninggalkan esensi agamanya,
diganti dengan logika sekenanya..
agama hanya dijadikan simbol legalitas politik dan kekuatan kelompok

nb: 
lapo = warung makan khas Batak, yang biasanya menyajikan makanan yang diharamkan bagi umat Islam. 
Tulisan ini pernah dimuat pada blog pribadi saya di Multiply pada tahun 2007.

Sabtu, 28 November 2009

Senang jadi Orang Miskin atau Administrasi yang Tak Becus?

Beberapa tahun terakhir ini, selalu ada berita ‘aneh’ seputar pembagian daging Qurban. Salah satu contohnya dapat dilihat di sini:
Vivanews: Tak Dapat daging kurban, banyak warga emosi

Pertanyaan di atas itu cuma salah satunya saja. Ada banyak pertanyaan yang muncul, mungkin harus diadakan investigasi khusus yang akan memakan waktu untuk menjawab semuanya. Selama Qurban itu masih dipandang sebagai sekedar ritual & dilaksanakan secara sporadis, dilakukan oleh lembaga-lembaga, masjid-masjid, atau perorangan secara independen dan tak terkoordinasi seperti saat ini, masalah akan selalu muncul. Tak menutup kemungkinan, warga yang ‘tidak terlalu miskin’ menerima lebih dari 1 paket daging Qurban, sedangkan warga di tempat lain yang ‘benar-benar miskin’ justru tidak menerima sama sekali.

Saya pikir gerakan Qurban ini idealnya lebih dari sekedar ritual ibadah. Qurban hendaknya menjadi suatu gerakan nyata yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saya meyakini, pada masa Rasulullah, Qurban ini merupakan sarana untuk mendamaikan suku-suku Arab yang sering bertikai. Qurban bukan hanya dinikmati oleh Umat Muslim, namun oleh seluruh masyarakat di wilayah Arab saat itu. Pembagian daging menjadi awal dari suatu proses rekonsiliasi, terlepas dari segala perbedaan keyakinan yang dianut oleh suku-suku itu. Ini adalah proses sosial politik yang diritualkan agar menjadi pelajaran bagi umat-umat berikutnya. Namun bangsa ini malah lebih mementingkan ritual daripada esensi dasar dari proses Qurban itu. Oleh karena itu gerakan nyata yang saya bayangkan agaknya masih sulit diterima jika dijabarkan lebih lanjut. Akan ada waktu yang lebih tepat untuk menyampaikannya nanti.

Saat ini, saya hanya berharap, paling tidak ada pembenahan dalam tata laksana pelaksanaan Qurban. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan salut untuk terobosan dari Rumah Zakat Indonesia dan Rumah Yatim Indonesia – atau mungkin juga lembaga lainnya yang belum saya ketahui – yang berinisiatif memproses daging Qurban sehingga dapat bertahan lebih lama sehingga bisa didistribusikan ke wilayah yang lebih luas dan Insya Allah memberikan manfaat untuk lebih banyak orang.
Selanjutnya adalah hal-hal yang menurut saya dapat dilakukan untuk memperbaiki pelaksanaan Qurban & pendistribusiannya:
  1. Kejelasan SIAPA yang berhak menerima daging Qurban

    Dalam hal ini harus ada dasar untuk menetapkan KRITERIA orang yang berhak menerima daging Qurban. Entah berdasarkan umur, pekerjaan, penghasilan, tempat tinggal, status sosial, dsb. Dalam kenyataannya, masih banyak yang menetapkan penerima daging Qurban berdasarkan perasaan. Dari kriteria ini, akan diperoleh JUMLAH yang akurat dari penerima daging Qurban.

  2. Ketersediaan DATA yang akurat & dapat dipertanggungjawabkan tentang penerima daging Qurban. Data ini paling tidak meliputi:
    • Jumlah penerima
    • Lokasi penerima

  3. Penunjukan PENANGGUNG JAWAB pendistribusian daging Qurban

    Pelaksanaan ibadah Qurban merupakan suatu proyek besar yang melibatkan banyak orang, tenggat waktu pelaksanaan & urutan proses yang harus dilaksanakan. Aneh jika tidak ada penanggung jawab untuk program sebesar ini. Jika setiap lembaga & masjid bergerak sendiri-sendiri menetapkan penerima daging Qurban, tidak menutup kemungkinan terjadinya penerimaan ganda ataupun justru ada yang terlewat karena tak ada yang merasa bertanggung jawab.

    Oleh karena itu harus ada LEMBAGA yang bertanggung jawab dalam pelaksanaannya, yang berwenang membuat perencanaan, melakukan pembagian tugas, mengawasi pelaksanaan & memastikan daging Qurban sampai kepada orang yang berhak menerimanya.

  4. Penetapan TARGET jumlah daging Qurban yang akan didistribusikan

    Berdasarkan data jumlah penerima, lokasi & segala detilnya, barulah dapat ditetapkan berapa jumlah daging qurban yang HARUS didistribusikan. Dari jumlah itu, dapat ditentukan berapa JUMLAH HEWAN Qurban yang harus diadakan dan siapa yang harus mengadakannya.

  5. Penetapan TENGGAT waktu pengumpulan & pemrosesan hewan Qurban

    Sebagaimana sebuah proyek, harus ada tenggat waktu untuk memastikan pelaksanaan ibadah ini berjalansebagaimana mestinya. Jadi dalam hal ini, panitia pelaksana harus mengejar target & bukan hanya menunggu. Evaluasi harus dilakukan sebelum tenggat, agar dapat diputuskan langkah yang diambil jika ada ketidaksesuaian antara target dan pencapaian.

  6. Penetapan PROSEDUR atau tata laksana pembagian daging Qurban

    Proses pengemasan daging Qurban merupakan langkah yang baik sehingga daging tersebut dapat bertahan lebih lama. Langkah ini juga memungkinkan daging dibawa ke tempat-tempat yang jauh, yang memang lebih membutuhkannya ketimbang didistribusikan di wilayah perkotaan yang fasilitasnya sudah lengkap. Andainya langkah-langkah 1 s.d 6 dapat terpenuhi, seharusnya tidak banyak lagi kendala untuk pelaksanaan langkah ke-6 ini.



Sesudah semua prosedur dilaksanakan, tentulah harus ada proses evaluasi dan pertanggung jawaban, sehingga pelaksanaan program ini dari tahun ke tahun menjadi semakin baik. Hal lain yang secara otomatis terkait dengan Qurban, sebetulnya bukan hanya penerimanya, tetapi SIAPA YANG HARUS BERQURBAN. Agaknya sampai sekarang pun belum ada data resmi, berapa jumlah warga yang berkurban dan berapa hewan Qurban yang disembelih secara nasional, sehingga tidak bisa disimpulkan, seberapa besar kesadaran masyarakat untuk berqurban. Ini memerlukan proses pendidikan & penyadaran yang agaknya lebih sulit daripada pelaksanaan hal-hal yang sudah saya tuliskan di atas tadi.

Kenyataannya, dalam beberapa kali pelaksanaan Qurban para pamong desa hingga tingkat RT-RW masih sulit memberikan data warga yang berhak menerima daging Qurban. Warga di pedesaan lebih senang memilih jawaban mudah: “Semua yang di sini miskin, semua berhak dapat daging Qurban”.
Yah, agaknya negeri yang ideal itu memang masih sangat jauh :-)